Back to see you again and be mine! – Part 2.2 (Are you my fate?)

ImageMain Cast :Yuri Chinen (Hey Say Jump!), Ogata Arusi (OC/Cika)
Support Cast: ibu Chinen, Ryosuke Yamada (Hey Say Jump!).
Length :Twoshoot (really long)
Genre : family,romance, little bit humour

This story made by

@LiaGuk2

___________________________2.2__________________________

Yuri merasakan jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Pikirannya masih terombang-ambing atas rasa penasaran yang kini memuncak.

“ehm,, iya. Bukankah senpai memang sangat terkenal di kalangan sekolah kita? Ah, iya. Mungkin hanya aku yang tahu senpai, sedangkan senpai tidak. Hehe.” Jawab gadis itu dengan santai.

“ah, oooh, iya. Ehehe. Ehm,, ngomong-ngomong apakah kau juga memperhatikanku?” tanya Yuri tanpa basa-basi yang sontak membuatnya menyadari atas pertanyaannya yang tidak masuk akal.

‘aish! Aduh, bodohnya aku!’ rutuknya dalam hati.

“ehm, maksud senpai?” tanya gadis itu seraya memiringkan kepalanya tak mengerti. Menambah kesan keluguannya di hadapan Yuri.

‘ASTAGA,, IMUTNYA!’gumam Yuri.

“ehm, ehm, m,mak-sudnya, ehm, begini, a-“ perkataannya terputus begitu suara ponsel miliknya bebunyi.

“ehm, tunggu sebentar!” Yuri segera mengambil ponselnya di sakunya dan menekan tombol hijau.

“moshi-moshi, ya okasan?”

“ah, HEY! KAU DIMANA?” Yuri segera menjauhkan ponselnya begitu mendengar suara merdu nan indah milik ibunya. Bibirnya merutuki tak jelas atas perlakuan ibunya.

“hah, okasan, bisakah tidak berteriak di telinga orang lain? Telingaku akan bermasalah dan menjadi tungkik nantinya.” Balas Yuri dengan nada bercanda, membuat gadis disebelahnya ikut tertawa nyengir.

“APA? APA? OKASAN TIDAK BISA DENGAR DENGAN JELAS! DISINI BERISIK SEKALI! CEPATLAH KESINI. IBU BURU-BURU PULANG. DALAM 5 MENIT KAU HARUS SAMPAI DISINI. MENGERTI?” ibunya buru-buru menutup telponnya. Takut pulsanya akan habis tersedot banyak jika berlama-lama.

“haiiah, Okasan..?” gerutu Yuri.

“ehm, senpai? Kau ada masalah dengan okasanmu?” tanya gadis itu berhati-hati.

“ah, tidak. Tidak ada masalah. Ehm, aku pulang dulu.” Pamit Yuri seraya mengambil jaketnya di sebelah mangkuk ramennya.

Saat Yuri mengambil jaketnya, kedua matanya langsung tertuju pada mangkuk disebelahnya. Astaga! Mie ramennya masih utuh rupanya.

“ah, hei. Mie Ramennya untukmu. Anggap saja aku mentraktirmu. Aku pergi dulu.” Yuri segera bergegas keluar dari kedai langganannya dan tak menghiraukan ucapan terima kasih dari gadis itu.

Ia langsung menaikki motornya dan segera menyalakan starter. Pergi melesat dengan kecepatan rata-rata 80 km/jam, membelah keramaian tengah jalan.

Sesampainya di rumah, Yuri dan ibunya duduk berhadapan di ruang tamu sambil menikmati kue yang dibawa oleh ibunya saat di acara reunian tadi.

Hening. Keadaan saat ini sangat hening, hingga salah satu dari antara mereka angkat bicara.

“ehm, ada apa ibu?” tanya Yuri sambil mengunyah.

“err, kuharap kau mengerti, Yuri-kun.” Kata ibunya linglung saat mencoba memikirkan kata-kata yang tepat untuk kesayangannya.

“aku takkan mengerti kalo ibu berbicara tidak jelas. Sebenarnya ada apa, sih?” kesal Yuri. Ia merasa ada sesuatu yang disembnyikan dari ibunya.

“ehm jadi begini. Ibu bertemu dengan teman lama ibu. Dia juga merupakan sahabatku yang paling mengerti dan setia, hingga suatu saat, aku..” perkataannya terputus saat ia melihat mimik muka Yuri yang serius. Ibunya mendesah.

“hah, aku dan sahabatku membuat janji. Jikalau anakku dan anaknya sesama jenis, maka kami akan menjadikan mereka sahabat. Namun jika tidak, maka kami akan mempersatukan dan menjodohkannya, jadi..” pernyataan ibunya terputus saat Yuri angkat bicara.

“lalu, apakah ia laki-laki?” tanya Yuri saat hatinya berbicara bahwa akan terjadi sesuatu yang buruk padanya. Ibunya menggeleng pasrah dan membuat Yuri tersontak.

“sayang, ku harap kau mengerti ibu.” Ibunya mencoba menenangkan anaknya, namun ditolaknya.

“TIDAK! AKU TIDAK AKAN MENERIMA PERJODOHAN INI! TITIK!” seru Yuri. Ia lantas pergi meninggalkan ibunya dan menuju ke kamarnya. Menutup pintu kamarnya dengan kasar dan menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Ia menenggelamkan wajahnya di antara kedua bantalnya. Pikirannya kembali ke kejadian tadi saat ibunya dengan tega – menurutnya – mengumumkan bahwa ia akan dijodohkan. Ia tahu arti sebuah janji dan harus ditepati saat waktunya tiba. Tetapi ia tidak setuju lantaran ia dijodohkan dengan orang yang tak dikenalnya. Ia berharap ini adalah sebuah mimpi dan tak akan terjadi di kehidupan nyatanya.

Yuri terbangun dari alam mimpinya. Kedua matanya mengarah pada jam dindingnya. Sudah menunjukkan pukul 5 sore. Ia segera berdiri dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.

“namun jika berbda, kami akan menjodohkannya.”

“ehm, kuharap kau mengerti, Yuri-kun.”

Perkataan ibunya menggema di pikirannya.

“aish, ini hanyalah mimpi. Bukan kenyataan.” Pikir Yuri saat air shower mengguyur seluruh tubuhnya.

“Yuri-kun.” Sapa ibunya saat mereka makan malam. Ibunya merasa tidak enak ketika ia berbicara tentang perjodohan dengan Yuri dan anak dari sahabatnya itu. Apalagi besok ibunya berencana mempertemukan mereka. Situasi yang sangat sulit bagi ibunya.

“okasan, aku,,”

“aku tahu kamu tak menerima perjodohan ini. Tapi bisakah kau melakukan hal ini untukku? Sekali saja.” Pinta ibunya yang membuat Yuri menjadi merasa bersalah atas tindakannya walaupun itu sebenarnya merupakan haknya untuk menolak. Ia teringat akan pesan ayahnya sesaat sebelum meninggal.

“jaga ibumu baik-baik.” Kalimat itu menggema di pikirannya sekarang. Yah, Yuri harus menerima perjodohan ini. Lagipula, ia harus mencoba melupakan  gadis yang ia sukai sejak dulu.

“baiklah, okasan. Aku,, – aku menerima perjodohan ini.” Jawab Yuri dengan lantang. Ibu Yuri tersentak kaget mendenngarnya hingga kedua matanya terbelalak lebar.

“BENARKAH?” tanya ibunya tak percaya.

“iya okasan.” Jawab Yuri dengan senyum paksa.

“hiks, terima kasih anakku.” Ibu Yuri mendekati anaknya dan memeluknya dengan erat. Menangis terharu, akhirnya Yuri mau mengikuti kemauan ibunya. Yuri turut merasa senang melihat tingkah ibnuya meskipun sebagian dirinya merasa sedikit tak rela.

“Kalau begitu, besok malam kita akan bertemu dengan mereka.”

“APA?”

Keesokan harinya,,

“sini, rambutmu sedikit berantakan!” ibunya menyisir rambut Yuri yang sedikit menyamping. Yuri menghela nafasnya berat.

“hah, okasan. Ini terlalu berlebihan. Lebay deh!” celoteh Yuri pada ibunya.

“tidak, percayalah pada ibumu.” Sanggah ibunya.

“Nah, sudah selesai! Lihat! Kau tampan sekali, Yuri sayang.”  Ujar ibunya bangga dengan hasil kerjanya. Yuri penasaran, kedua kakinya segera menuju cermin terdekat.

“ha? Model apa ini, okasan?” gerutu Yuri saat melihat dirinya di depan cermin dengan tatanan rambut yang jadul. Rambut klimis dengan model menyamping seperti model tahun 70’an.

“aku terlihat seperti orang tua.” imbuhnya. Tak puas, ia segera mengganti model rambutnya sesuai dengan keinginannya.

“yah, terserah! Yang penting kau harus terlihat tampan di depan calon istrimu.”

“aku kan memang tampan, okasan.” Ujar Yuri percaya diri. Ibunya tersenyum menyetujuinya.

“wow, ini kan restoran mahal, okasan? Okasan yakin kita akan makan malam disini? Kita kan tidak punya banyak uang untuk makan disini.” Tanya Yuri dengan mata berbinar saat menatap luar restoran di depannya. Di sampingnya, ibunya, hanya tersenyum melihat tingkah anaknya yang sedikit ‘katrok’.

“ha, bagaimana dia bisa menjadi suami yang keren kalau dia sedikit kuno?” katanya dalam hati.

“Tidak. Kita hanya diundang saja, dan makan gratis disini. Teman ibu yang membayar semuanya.”

“WOW! Hebat!” seru Yuri terkagum.

“sudah, sudah! Ayo cepat, kita sudah ditunggu. Lagipula okasan sudah tidak sabar mencicipi makanan disini.”

“Ahaha, baiklah! AYO!”

Yuri dan ibunya masuk ke dalam ruang restoran tersebut. Kedua bola mata mereka semakin berbinar ketika melihat desain ruangan yang sangat indah di dalamnya. Dinding yang terbuat dari kayu jati, hiasan lampu kristal yang menggantung indah di langit-langit dan meja dan kursi yang terlihat mahal harganya, menambah kesan elite. Suasananya yang tenang dan aroma masakan yang menyeruak membuat kedua orang itu menelan ludah.

“Hey, kawan.” Sebuah suara yang terdengar seperti seorang wanita paruh baya membuyarkan dunia fantasi mereka. Ibu Yuri segera tersadar.

“oo, OH? Hay, kawan lama!” ibu Yuri segera memeluk kawan lamanya. Melepas kerinduan walaupun mereka berdua telah bertemu kemarin. Kemudian melepaskan pelukan dan menatap satu sama lain.

“ehm, dimana anakmu? Apakah dia?” tanya teman ibu Yuri saat menatap Yuri.

“iya.” Jawab ibunya singkat.

“WOW, dia tampan sekali.” Pujinya. Yuri sedikit tersipu mendengarnya.

“ehm, ayo masuk ke dalam! Aku akan mengenalkan kalian pada putriku. Dan kau Yuri, ah, kau pasti akan suka padanya. haha.” Canda beliau.

“yah, kuharap begitu.” Kata Yuri dalam hati.

Mereka bertiga berjalan menuju ke meja dimana ada seorang gadis yang duduk disana. Yuri semakin pensaran dibuatnya.

apakah dia cantik? Manis? Atau kecut?”

“aishh, ini bukan saatnya bercanda, Chinen Yuri. Ya sudahlah, terima saja nasibku.”

Saat ketiganya mendekati meha itu, teman wanita ibunya segera menepuk bahu gadis itu dari belakang.

“sayang, mereka sudah datang.” Tegurnya pada gadis itu yang ternyata anaknya. Gadis itu berdiri dan membalikkan badannya, berniat bertatap muka dengan keluarga calon suaminya.

DEG!

Gadis itu terdiam. Kedua bola matanya menangkap sosok Yuri dihadapannya. Di sisi lain, Yuri juga terkejut saat dirinya mendapati seorang gadis yang telah lama ia sukai sejak dulu di hadapannya. Di pikirannya, ia tak menyangka bahwa gadis yang dijodohkan adalah gadis itu.

“Ow, ada apa dengan kalian? Kenapa saling diam? Aha, jangan-jangan kalian sudah saling kenal ya?” goda ibu gadis itu. Membuat salah satu dari mereka tersadar.

“ha? Eum,,-“ Yuri merasa gugup akan situasi seperti ini sambil mengusap leher belakangnya.

“dia senpaiku, okasan.” ungkap gadis itu malu-malu.

“Benarkah? Ah, ternyata kau cantik sekali. Ngomong-ngomong, siapa namamu?” tanya ibu Yuri.

“Aku, Ogata Arusi. Salam kenal, obasan!” gadis itu membungkuk, memberi salam kepada calon mertuanya.

“ah, jangan memanggilku seperti itu, Arusi. Panggil aku, O-KA-SAN.” Ujar ibu Yuri, menekankan kata Okasan dengan semangat.

“salam kenal juga, Arushi.” Ujar Yuri tak mau kalah.

“haiah, karena kalian sudah saling berkenalan, bagaimana kalau pernikahan kalian diadakan minggu depan?” kata ibu gadis itu dengan wajah gembira.

“APA?” sontak mereka bersamaan.

END!

Iklan

Published by: liaguk2

Dunia antah berantah... Sebuah tempat yang tidak dikenali dari mana asalnya dan kapan munculnya. Seperti ini lah wordpressku. Sebuah wadah yang tidak.dikenali asalnya dan kapan munculnya. Munculnya pun cuman bisa dihitung jari. Hahaha. By the way, I am Inspirit. Fan of Infinite. And Woohyun is my ultimated bias. Senang berkenalan dengan para pengunjung.

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s