Back to see you again and be mine! – Part 1.2 (Get Intro)

Main Cast : Yuri Chinen (Hey Say Jump!), Ogata Arusi (OC/Cika)

Support Cast : ibu Chinen, Ryosuke Yamada (Hey Say Jump!).

Length : Twoshoot (really long)

Genre : family, romansa kelabu, sedikit ngantuk

 A/N : Ini FF buat temanku anak Jumpers. Suka banget dengan yaoi, terutama YAMARUCHI Couple. haha. ckck.

This story made by @LiaGuk2

Image

 

Semburat cahaya mentari masuk menerobos melalui celah jendela kamarnya. Yuri Chinen, atau yang biasa disapa Chinen masih tertidur lelap di ranjangnya. Selimut tebalnya tampak menutupi seluruh tubuhnya hingga tak mampu ditembus oleh sinaran matahari.

 

TOK TOK TOK

“Chinen-kun!” terlihat seorang wanita paruh baya sedang mengetuk pintu kamar seraya meneriakkan nama anaknya. Namun tak ada sahutan dari dalam kamar.

 

TOK TOK TOK

 

“HEY! CHINEN-KUN!” Ibunya masih setia menggedor pintu di depannya hingga akhirnya Chinen -pemilik kamar yang digedor sekaligus anak dari wanita paruh baya itu- membuka pintunya sambil mengucek-ngucek matanya yang masih mengantuk.

 

“HYA! ada apa okasaan? ini kan hari minggu! Kenapa kau membangunkan ku sepagi ini?” celetuk Chinen malas seraya menguap lebar tanpa menutup mulutnya. Membuat sang ibu terpaksa harus menutup hidungnya sambil mengibas-ibaskan demi menghilangkan bau mulut anaknya.

 

“Astaga Chinen-kun! Mana sopan santunmu, huh?” gerutu ibunya. Chinen hanya nyengir kuda melihat kelakuan ibunya.

 

“kau, mandi dulu sana! Setelah itu ada hal yang ingin ibu bicarakan padamu, dan ingat,, JANGAN TIDUR LAGI! wakarimashita?”

 

“Hai. Wakarimasu!” Chinen segera menutup pintu kamarnya setelah ibunya beranjak ke dapur. Ia kemudian melangkahkan kakinya ke kamar mandi di kamarnya.

 

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

 

“ada hal apa yang ingin ibu bicarakan padaku?” tanya Chinen segera seraya menghenyakkan pantatnya di kursi meja dapur setelah sebelumnya menggeser kursinya ke belakang. Ibunya yang sedang asyik mengoles selai coklat di atas roti *roti kempit* #plak #buagh sedikit tersentak karena kehadiran putranya yang tiba-tiba tanpa ada sapaan darinya. ‘hufftt! untung saja aku tidak punya penyakit jantung.’ sujud syukur ibunya dalam hati. Beliau lalu memberikan roti selai yang ia sudah ia oleskan pada Chinen. Tanpa babibu Chinen langsung mengambilnya dan mencomotnya.

 

“begini, hari ini ibu ada acara arisan untuk pensiunan. Kau mau kan mengantar ibu sekaligus menemani ibu?” mendengar permintaan ibunya Chinen yang baru saja menelan rotinya tiba-tiba tersedak. Ia segera mengambil dan meminum segelas susu disebelahnya tanpa menghiraukan susunya yang masih panas. Spontan Chinen langsung menyemburkannya ke lantai karena lidahnya terasa panas. *mampus loo! hahaha.* #plak #buagh (wajah tinggal membiru) (kasihan authornya,, -__-“)

 

“ohok, ohok, ohok,,, ssshhhhh,, aifffhhhh,, hanashhhh,, (aisshh panas),, ohok, ohok,, ssffffffhhhh!”

 

“makanya, jangan suka gegabah. Jadinya seperti ini kan?” ujar sang ibu sambil berdiri dan mengambil air putih yang letaknya di counter dapur, tak jauh dari meja makan. Memberikannya pada Chinen dan langsung disabet anaknya, lalu meminumnya hingga habis.

 

“hah, akhirnya!!” Chinen merasa lega. Penderitaannya di pagi hari ini cukup membuatnya menderita. Sang ibu hanya menggeleng-geleng melihat kelakukan anaknya yang sama persis dengan almarhum suaminya. Gegabah, suka terburu-buru, dan seenak jidatnya. Ya, ayah Chinen telah meninggal sejak dua tahun yang lalu karena penyakit jantung akutnya. Sejak sepeninggalnya ayah Chinen yang merupakan pencari nafkah di keluarganya, Chinen memutuskan untuk mencari kerja. Awalnya, ibunya menolak keputusan anaknya yakin ia masih mampu bekerja tanpa harus melibatkan anaknya yang masih fokus terhadap kuliahnya.

 

FLASHBACK!

Suasana duka masih terselimuti. Ibu dan anak masih terduduk termangu di ruang tengah. Pikiran mereka masih melayang hingga salah satu dari antara mereka mengangkat suaranya.

“Okaasan. Aku ingin bekerja.” ujar Chinen sambil menundukkan kepalanya. Walau ia sedikit nakal dan sering menggoda ibunya, ia sebenarnya cukup takut jika ibunya benar-benar marah padanya. Apalagi keadaan saat ini yang masih terselimuti duka, ibunya pasti menolaknya mentah-mentah.

“untuk apa kau bekerja? Kuliah lah yang benar. Jangan membuat bebanmu makin bertambah. Apalagi sifat gegabahmu itu tidak pantas untuk bekerja.” ujar ibunya dingin. Chinen tahu betul jika ibunya sedang dalam keadaan tidak baik, tapi bagaimana pun perkataan ibunya cukup menyakitkan buatnya. Sudah ia duga, ibunya pasti menolaknya.

“aku tahu. Tapi setidaknya aku ingin mengabulkan permintaan otousan,,” ucapan Chinen terputus saat ia menatap ibunya yang tengah menatapnya balik.

“apa yang ia katakan padamu?”

“beliau mengatakan aku harus menjaga dan melindungi ibu.Dan yang terakhir, jangan menyusahkan ataupun membebani ibu,,”

“………..”

“karena itu aku ingin mencari pekerjaan mulai besok. Masalah kuliah, aku bisa mengurusinya sendiri. Bukankah aku sering mendapatkan IP 3,9 setiap semesternya?” ujar Chinen meyakinkan pada ibunya. Ia lalu menggenggam kedua tangan ibunya sambil memamerkan senyuman terbaiknya pada ibunya hingga kedua matanya tenggelam menjadi segaris.

“tapi, ibu bisa,,,”

“ibu, kali ini saja percaya padaku. Aku berjanji takkan menyusahkan ibu.” mendengar ucapan serius dari anaknya, tangisan beliau akhirnya pecah. Ia tak menyangka anaknya yang sedikit pembangkang ternyata begitu berbakti pada orang tuanya terutama pada pesan dari ayahnya.

 

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

 

“aku siap! Ayo ibu!” ujar Chinen sambil sedikit merapikan bajunya. Ibunya yang sedari tadi asyik menonton TV dengan pakaian rapinya, kini memandang anaknya yang sudah rapi di sebelahnya. Walau hanya dengan kaos putih V neck berbalut jaket kulit hitam serta celana jeans skinny yang menempel ditubuhnya membuat Chinen tampak semakin tampan. ‘anak kita benar-benar tampan sepertimu, Ryosuke.’ gumamnya bangga dalam hati.

“ibu, ayo! Jangan menatapku lama seperti itu. Apakah aku terlihat tampan, bukan? Hehe.” godanya pada ibunya yang kini tersadar dari lamunannya.

“Hehe. Harus kuakui kau memang tampan. Tidak mungkin ibu bilang kau jelek. Itu sama saja ibu dan ayahmu juga jelek. Haha.” kelakar ibunya sambil tertawa membuat Chinen turut larut dalam kegembiraan mereka.Well, pasalnya ibu Chinen memang cantik. Bahkan terbilang sangat cantik di usianya yang kini telah memasukki kepala lima.

 

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

 

30 menit kemudian, mereka telah sampai di sebuah gedung pertemuan yang lumayan besar. Ibu Chinen turun dari motor anaknya dan menyerahkan helm pada anaknya.

“Chinen, kau mau ikut ibu ke dalam?”

“Tidak, ibu. Aku lebih baik menunggu ibu di kedai langgananku. Kalau sudah selesai, telfon Chinen ya? hehe.” Chinen menerima helm dari tangan ibunya. Tiba-tiba kedua tangannya menengadah ke ibunya.

“apa? kau minta uang?”

“iya. hehe.” Chinen menyengir.

“huff! dasar! Ini!” terpaksa ibunya memberikan beberapa lembar uang yen kepada Chinen. Menyerahkannya ke tangan Chinen dengan kasar, membuat Chinen terjengit kaget.

“aiisshh! Ibu tidak ikhlas nih. Baiklah aku pergi dulu. Selamat bersenang-senang!” Chinen menyalakan motornya dan pergi melesat jauh dari tempat ibunya berdiri.

“aisshh! dasar anak kurang ajar!”

 

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Chinen memakirkan motornya di samping kedai ramen langganannya sewaktu SMA. Sudah lama ia tak mampir ke tempat itu semenjak ia duduk di bangku perkuliahan sambil menyibukkan dirinya ke dalam pekerjaan. Tempatnya yang tak berubah sedikitpun membuat pikirannya kembali ke masa itu. Dimana saat itu merupakan pertama kalinya ia bertemu dengan seorang gadis cantik yang mampu menarik hatinya saat ia makan mie ramen di kedai itu. Gadis berambut ikal, bermata sipit seperti orang jepang biasanya, dan memiliki bibir berwarna merah ranum.Gadis yang sangat sempurna dimatanya, membuat hatinya berdesir saat melihatnya. Dari sejak saat itu hati Chinen tak bisa berpaling ke yang lain. Entah ia yang bodoh atau dibutakan dengan namanya cinta pada pandangan pertama, banyak gadis-gadis cantik yang mencoba merebut hatinya dengan menyatakan cinta, namun ia tetap tak bisa menerimanya dan masih memilih untuk menanti gadis pujaannya kembali padanya. Ah, betapa susahnya menghapus cinta pada pandangan pertama.

 

Chinen melangkahkan kakinya memasukki kedai itu. Tampak suasanannya cukup sepi. Hanya tiga meja yang diisi oleh dua orang per meja. Chinen lebih memilih duduk di depan penjual mie ramen. Ia kemudian memesan semangkuk mie ramen jumbo (?) *jumbo? sebesar apakah itu?* dan segelas teh hijau hangat untuknya. Penjual mie ramen pun mengangguk dan kemudian mengerjakan sesuai dengan pesanan Chinen. Chinen menatap arloji berwarna merah di pergelangan tangan krinya. Masih pukul 11 siang. Kurang satu jam lagi,pikirnya.

Tiba-tiba ia merasakan ada seseorang yang duduk di sampingnya. Baunya yang harum seperti vanilla menusuk ke dalam hidung Chinen. Chinen lantas menoleh ke asal bau nan harum itu.

 

DEGH!

 

Matanya menangkap seorang gadis yang sedang sibuk mengotak-atik smartphonenya. Jantungnya berdegup kencang, ia yakin gadis ini adalah gadis yang ia tunggu-tunggu selama ini. Tak ada perubahan, gadis itu tetap seperti dulu. Secara tak sadar seulas senyuman hangat terukir jelas di wajah imutnya.

 

“pesanan anda telah datang, tuan!” pandangab Chinen yang tak bisa lepas dari gadis di sampingnya tidak menghiraukan pemilik suara itu.

“tuan, pesanan anda!” sedikit kesal pemilik kedai itu memanggil pelanggannya. Hingga salah satu diantara mereka berdua -gadis itu dan Chinen- menyadari panggilan itu. Gadis yang ditatap Chinen menatap balik padanya. Melambaikan tangannya seraya menepuk bahu pria di sebelahnya.

“pesananmu datang, Chinen-senpai.” ucap gadis itu. Merasa ada yang meneybut namanya Chinen segera sadar dari lamunannya.

“ah?ah, i-iya. Arigatou.” Chinen mengambil makanannya dan menaruhnya di meha depannya.

DEGH!

Bukankah yang memanggil namanya tadi adalah (mungkin) gadis di sebelahnya? Dan apa maksudnya gadis ini memanggil namanya dengan embel-embel senpai? Apakah,,,,??

 

“apakah kau mengenalku?”

 

TBC –

Iklan

Published by: liaguk2

Dunia antah berantah... Sebuah tempat yang tidak dikenali dari mana asalnya dan kapan munculnya. Seperti ini lah wordpressku. Sebuah wadah yang tidak.dikenali asalnya dan kapan munculnya. Munculnya pun cuman bisa dihitung jari. Hahaha. By the way, I am Inspirit. Fan of Infinite. And Woohyun is my ultimated bias. Senang berkenalan dengan para pengunjung.

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s