(Debuted Fanfiction) Peel and Seal (1.2)

Image

Title : Peel and Seal

Cast : Lee Jinki [SHINee], Shin Jung Ah.

Genre : Fantasy, Romance, Life

Length : Oneshot

Rating : General

A/N : FF ini hancur total! Gagal Total, alias GATOT! Ide dan bahasapun cuman segitu doang. Gak ada perkembangan sama sekali. HUhuhu..  

________________________________________________________________________

“Ah sepertinya tempat ini cukup nyaman.” Ujar seorang namja seraya duduk di atas rerumputan hijau beserta menaruh pancingan yang ia tenteng sedari tadi. Sejurus kemudian, ia menekukkan kedua kakinya menjadi bersila di pinggiran sungai yang bergelombang riak kecil.

Lee Jinki –nama pria itu- sangat mencintai hobi memancingnya itu. Ia sangat menyukai ikan. Bahkan, lebih dari separo hidupnya hanya berkutat pada hobinya itu, tak terkecuali untuk pekerjaan kantornya tetap ia tekuni.

Eommanya yang terbilang cerewet –menurut Jinki-, tetap terus menyerocokinya untuk menikah. Lantaran umurnya yang sudah berkepala tiga belum kunjung mendapatkan seseorang yang dijadikan sebagai pendampingnya. Wajah Jinki sebenarnya tidaklah buruk. Hidungnya yang mancung dan matanya yang sipit makin mempermanis wajahnya yang tampan. Tak ayal, banyak para yeoja yang telah dijodohkan oleh eommanya –Jinki- selalu berharap lebih. Namun, Jinki menolak acara perjodohannya dengan halus agar yeoja yang akan dijodohkan dengannya tidak merasa tersinggung. Setiap pernyataan tolak yang ia ucapkan selalu membuat eommanya menjadi geram. Eommanya merasa takut dengan kejiwaan Jinki yang sampai saat ini belum menggandeng seorang yeoja ataupun mengenalkan padanya. Apakah anak semata wayangnya itu masih normal? Mengapa ia selalu menolak perjodohannya –atau lebih tepatnya perjodohan yang direncanakan oleh eommanya- ? padahal gadis-gadis yang sengaja dipilihkan oleh eommanya termasuk dikategorikan ‘PERFECT’. Cantik, pintar, cerdas, dan yang terpenting… sudah berkarir.

Jinki, tak tahu merasa diuntungkah dirimu ?

Matahari segera kembali ke tempat peraduannya, menandakan hari sudah memasuki senjanya, namun Jinki masih dengan setianya duduk bersantai di pinggiran sungai yang sedikit tenang. Tiupan angin senja semakin menerpa keras wajah Jinki yang terbilang halus bagi seorang namja. Dingin! Itu yang dirasakan Jinki saat ini. Ia lupa membawa jaket kesayangannya hari ini.

“Grr,, nae paboya! Dingin sekali!” Jinki bersungut-sungut sambil mengusapi kedua lengannya sendiri. Menunggu hasil tangkapan ikannya yang tak kunjung berakhir.

Sudah hampir 3 jam berlalu, namun tak ada satu ikan pun yang ia tangkapi sedari tadi. Padahal selama 15 tahu ini ia tidak pernah sekalipun gagal dalam hal tangkap-menangkap ikan. Hanya dalam waktu 1 jam, ia sudah berhasil menangkap puluhan ikan. Bahkan rata-rata berat ikan yang ia tangkapi hampir 10 kg. benar-benar seorang ‘fisher’ sejati.

Lantaran tubuhnya yang hangat sudah tak sanggup menangkal dinginnya udara senja hari, ia menyerah begitu saja. Ia segera bangkit berdiri dan menarik benang pancingannya -dengan alat pemutar benang- dari sungai itu. Namun ada sesuatu yang menarik perhatian dirinya saat ia hendak menarik kembali tali pancingannya. Tali itu bergetar hebat. Ketika  Jinki mencoba menarik tali itu lagi, tali itu malah bergerak ke kanan dan ke kiri. Ia tersontak kaget sekaligus senang, karena penantiannya tidak sia-sia.

Dengan semangat ia nebarik tali itu dengan sekuat tenaga. Ia terus memutar alat penarik tali itu sambil sesekali menarik dan mengangkat tinggi-tinggi dengan tenaga ekstra.

“Aissh! Susah sekali!” gerutunya.

***********************************************************************

Selang beberapa menit kemudian, Jinki telah berhasil menangkap ikan tadi. Ia tampak kecewa lantaran ikan yang ia tangkap tadi berukuran kecil. Ia sempat mengira ikan itu berukuran besar dan berat. Mengingat perjuangan Jinki yang begitu berat baginya.

Kriiiuuukkkk ~

Bunyi perut Jinki terdengar jelas dari tempat kesunyian itu. Menandakan ia sangat lapar sore ini. Ia llau melirik ikan yang ia pegangi -dengan tali pancingan- sedari tadi.

“Jikalau dilihat lagi, ikan ini cukup besar juga. Tak ada salahnya..” ujarnya sendiri sambil membolak-balikkan ikan itu dihadapannya. Tiba-tiba Jinki berjongkok dan mengambil sesuatu di dalam keranjangnya. Mengorek-ngorek isi keranjang itu dan berhasil menemukan benda itu dalam keadaan yang cukup remang. Sebuah benda berukuran sebesar jari tengah orang dewasa, berwarna hijau, dan memiliki sumbu api yang berada di ujung atasnya. Korek Api.

“Aku akan mencari kayu bakar untuk ini.” Lanjutnya.

Hari semakin gelap. Bintang-bintang kecil di langit turut menghiasi gelapnya malam hari. Bulan purnama tampak gagah diantara bintang-bintang di sekelilingnya. Cahayanya begitu terang akibat pantulan cahaya dari sang matahari. Pemandangan yang sangat indah untuk disuguhkan. Namun Jinki tidak menikmatinya. Ia masih sibuk menghangatkan dirinya di hadapan perapian yang ia buat. Dinginnya udara di malam hari membuatnya tersiksa di tengah-tengah hutan kecil. Pikirannya masih kalut, bingung akan keputusan yang ia buat nantinya. Ia segera mengangkat sebuah plastic transparan yang berisikan air, yang didalamnya ada seekor ikan kecil yang masih hidup.

“Haruskah aku memakanmu, huh? Aku tak tega padamu!” gumamnya sendiri pada ikan itu. Perlu diketahui, Jinki tidak pernah memakan hasil tangkapannya sendiri. Ia lebih cenderung mengembalikannya pada habitatnya setelah selesai menimbang berat ikan itu. Tentu ia sangat ingin menjaga kelesatarian para ikan, karena ia begitu mencintai dengan ikan.

Kriiiuuukkk…

Alarm “kelaparan” Jinki terdengar lagi.

“Tapi, maafkan aku sayang. Aku tak tahan lagi. Aku benar-benar kelaparan sekarang!” Jinki lantas membuka ujung plastic yang ia tali simpulkan dan memasukkan tangannya. Hendak mengambil ikan itu di dalamnya.

“Tolong..” suara rintihan seseorang membuat Jinki diam membeku sejenak. Menganggap hanya sebagai angin lalu saja, ia tetap melanjutkan lagi kegiatannya yang tertunda

“Tolong,, jangan sakiti aku..~” suara rintihan itu menggema lagi. Mengusik gendang telinga Jinki yang sedang berkonsentrasi pada ‘target’nya.

“Aisshh! Apa sih itu?” Jinki mengurungkan niatnya untuk mengambil ‘target’nya. Ia bangkit berdiri dan menolehlan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Ia lalu berjalan mencari asal suara rintihan itu. Namun, langkahnya terhenti tak jauh dari tempatnya. Ikan di dalam plastic itu bergerak tak beraturan, membuat getaran-getaran kecil pada lengan Jinki.

“Kau kenapa wahai ikan kecil?” tanyanya sambil menatap ikan itu dalam keadaan remang.

“Benar. Aku sangat takut padamu, wahai manusia!”

BRAAAK!

Jinki tersontak kaget. Plastic yang ia pegangi jatuh secara tak sengaja ke permukaan tanah. Tepat dibawah kakinya. Wajar saja ia kaget lantaran ikan itu dapat berbicara. Ia melihatnya sendiri, bukan halusinasi. Ikan itu lantas melompat-lompat hingga menimbulkan suara cipakan karena tidak adanya air sebagai oksigennya. Melihat hal itu, Jinki menjadi panik bercampur aduk dengan rasa bersalahnya. Tanpa melakukan apapun, ia hanya bisa menyaksikkan ikan itu yang sedang berusaha mempertahankan hidupnya.

Tak berapa lama kemudian, ikan itu terdiam. Tidak ada suara cipakan lagi. Apakah ikan itu sudah mati? Pikir Jinki. Ia lantas mendekati ikan itu untuk memastikan keadaannya. Saat mendekati ikan itu, ada sesuatu yang ganjal pada ikan itu. Ikan itu mempunyai kelopak mata sehingga tampak sedang menutup rapat pada kedua matanya. Jinki mengernyit heran, bukankah ikan tidak mempunyai kelopak mata? Apakah ikan ini adalah ikan jadi-jadian? Jinki bertanya dalam batinnya.

Jinki mencoba menyentuh ikan itu dengan ujung jarinya. Ia akan siap mental jika ada sesuatu terjadi pada dirinya. Ketika ia menyentuh ikan itu, tiba-tiba seberkas cahaya putih datang dari ikan itu. Jinki lantas memundurkan tubuhnya sambil menyipitkan matanya, agar bisa menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam matanya.

Cahaya itu tiba-tiba menghilang dalam sekejap, membuat pandangan Jinki menjadi sedikit berkunang-kunang. Efek dari cahaya dadakan itu pastinya. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali sambil sesekali mengucek matanya, menghilangkan kunang-kunang yang masih berkeliaran pada pandangannya. Samar-samar ia melihat sosok yeoja sedang berdiri di hadapannya, tampak tubuh yeoja itu polos. Polos ? Jinki segera membelalakan matanya dan bangkit berdiri di hadapan yeoja itu. Matanya menilik tajam setiap inci pada yeoja dihadapannya. Apakah ini kenyataan, ataukah hanya khayalanku saja ? batin Jinki. Yeoja yang sedang dipandangi oleh Jinki lantas memajukkan tubuhnya, mendekati namja itu, membuat perasaan Jinki menjadi tak menentu. Yeoja itu segera memeluk namja itu dengan erat, dan berkata.

“Thank you”

TBC.

Iklan

Published by: liaguk2

Dunia antah berantah... Sebuah tempat yang tidak dikenali dari mana asalnya dan kapan munculnya. Seperti ini lah wordpressku. Sebuah wadah yang tidak.dikenali asalnya dan kapan munculnya. Munculnya pun cuman bisa dihitung jari. Hahaha. By the way, I am Inspirit. Fan of Infinite. And Woohyun is my ultimated bias. Senang berkenalan dengan para pengunjung.

6 Komentar

6 thoughts on “(Debuted Fanfiction) Peel and Seal (1.2)”

  1. Hai Liaaaa, akhirnya aku datang membaca FF mu, kekekek…
    Aseeek banget si Jinki ketemu cewek jadi-jadian di tempat sepi, ngeri sih tepatnya bukan asek, haha.

    Aku udah bikin beberapa koreksinya, mau dipostingin disini ato gimana?

  2. Wokey, jangan tersinggung ato gimana ya, ni cuma koreksi dari pribadi aku ^^
    1. Bagian yang paragraf ketiga, itu kan menceritakan tentang Eommanya Jinki. Nah di bagian itu agak terlihat aneh karena terlalu tiba-tiba menyingung Eomma, padahal sebelumnya yang disinggung adalah pekerjaan, kurang nyambung. Akan lebih baik kalo ditambahkan kalimat macam “Memancing kali ini pun adalah pelampiasan Jinki karena ceramah Eommanya yang dilakukannya tepat saat Jinki pulang kerja tadi.” Yeah, maca itulah, intinya diceritain dulu kenapa kita tibaa2 nyeritain ttg Eomma Jinki.

    2. Ada kalimat2 yang lebay, lebay disini maksudnya berlebihan kata, jadi terkesan boros kata2. Misalnya
    “Tak tahu merasa diuntungkah kamu?” lebih baik dengan “Tak tahu diuntungkah kamu?” atau “Apakah kamu tidak merasa beruntung dengan kenyataan ini.”
    Selanjutnya ada, “Jinki tersontak kaget. Plastic yang ia pegangi …” Err, kenapa ya aku berasa aneh denger frasa tersontak kaget itu. Lebih enak didenger “terperanjat” untuk mnejelaskan bahwa Jinki bener2 kaget saat itu.

    3. Ada beberapa kata yang kurang baku. Kayak “separo”, “tenteng”. Tapi itu memang tergantung authornya sih. Kan ada beberapa author yang menjuruskan FF nya jadi setengah komedi, jadi nggak perlu terlalu baku. Berbeda kalo misalnya kamu pengen bahasa yang sebenar2nya novel (walopun aku juga belum mahir sih), kata2 tadi diganti jadi baku ya, sayang ^^

    4. Kata Jikalau berasa dongeng banget, hehe. Diganti ama yang lebih modern aja kata2nya, wkwkwk

    Sisanya mah nggak terlalu penting untuk dikoreksi. Udah bagus kok, ide ceritanya juga menurutku nggak gatot. Karena aku juga nyadar FF aku juga masih gitu2 doang, hiks hiks…
    Sering2 aja nulis, biar lancar ^^

    Ohya, komen mengenai ceritanya : itu si Jinki emang mau bermalam disana ya? Kok nggak pulang aja pas dia ngerasa laper?

  3. Oow, begitu. Aseek dapat saran dari Han seosangnim.
    Benar juga ya saran dari eonnie yang poin ke-1. Ini aku jadikan revisi untuk part-2nya. Makasih eon udah ngajari tata bahasa yang baik, sebenarnya sih mau dibuat bahasa baku semua, cuman karena akunya yang kurang kosakata. Tapi eon, kalo kata ‘Jikalau’nya enaknya diganti kata apa supaya tidak terlalu baku?
    Menurut imajinasiku ya, sebenarnya dia itu lagi cuti dari pekerjaannya, dan pengen refreshing ke sungai yang belum ia temui, nah, kenapa dia nggak pulang? Karena dia lupa jalan pulangnya. Makanya dia ngerem terus disitu eon.

    1. Aaaa, begitu toh. Itu di jelasin nggak di part ini? Ato udah dijelasin tapi aku nya kurang baca dengan benar ya, haha #duaghh

      Aduh Han Songsaengnim berkesan gimana gitu, padahal masih pemula juga nih aye :p

      Semangat semangat buat part 2 nya 😀

  4. Di part ini belum aku jelasin eon, nanti di part-2 aku jelasin.
    Keke, YA-HAA! Tapi, eonnie sudah pro.. Kan banyak FF eonnie buat, jadi bukan termasuk pemula lagi.
    Oncree eon, doakan sukses ya eon? *kayak mau ujian aja* Kekeke. YA-HA! *bawa auto gun*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s